

B'Regards
Peter kusumah
PT. JAYA SAKTI INTERNUSA
Water treatment chemicals & Maintenance services
www.jayasaktiinternusa.com
Subject: Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber obat kanker: benar
adanya
Dear
all, Tgl 18 April 2008 kenalan saya menemukan tempat praktek Dr. Chris
Teo di Penang. Dr. Chris Teo khusus menangani jenis penyakit kanker . Berikut
info terbaru: Jadwal praktek Dr. Chris Teo : Hari Jumat jam 3 sore – jam 5
sore Hari Minggu jam 7 malam – jam 9 malam Alamat prakteknya : 5, Jalan
Lebuh Raya Glugor, Penang Sekitar Lam Wah Ee Hospital Tel. 604-6595881 Fax.
604-6580422 / 6573437 Email: chris@cacare.com Hubungi nomor telepon tsb untuk
appointment dengan Dr. Chris Teo. Sebaiknya membawa hasil rontgen dan laporan
medis lainnya tentang kanker yang sedang diderita pasien. Ibu kenalan saya
menderita kanker indung telur stadium lanjut, berat badan turun dari 68 kg
menjadi 40an kg. Sakit berkepanjangan dan muntah-muntah. Setelah mengkonsumsi
obat dari Dr. Chris Teo sekitar 3 minggu (1 botol / minggu), sakit berkurang
drastis, sudah bisa makan. Dr. Chris Teo menyarankan pantang
makan daging (ikan
diperbolehkan). Mohon
bantuan rekan-rekan untuk menyebar luaskan informasi ini. Semoga informasi ini
bisa sampai ke tangan mereka yang membutuhkan, meringankan penderitaan dan
menyembuhkan pasien-pasien kanker. Wishing all of you the best health..
Best wishes, Misan FYI…
JIKA ANDA MAU BERBAIK HATI TERHADAP SESAMA....TOLONG SEBARKAN INFORMASI INI...
Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi Kanker tidak lagi mematikan. Para
penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama
dengan ditemukannya tanaman "KELADI TIKUS" (Typhonium
Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan
mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman
sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak
yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini
sangat banyak
ditemukan di Pulau Jawa" kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang
menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak
tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS,
PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,
Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah
membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia
Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini
pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri
Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari
1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi
harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk
menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. "Sebelum
menjalani
kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena
kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan
hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi. Selama mendampingi istrinya
menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif
sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di
Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung
terbang ke Malaysiauntuk membeli teh tersebut" ujar Patoppoi yang juga
ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak
sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul
Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah
saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku
itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia
," kenang
Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca
khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang
biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan
mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai
tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata,
mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan
mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr.
Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.
Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman
tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi
untuk menggunakannya sebagai obat" lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad
bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut
sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk
diminum sebagai obat.
Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk
ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman
tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya
dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang
mendampingi ayahnya saat itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri
Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya
berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan
mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,"
lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani
pemeriksaan kankernya.. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh
mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta" kata Patoppoi. Para dokter
itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya.
"Malah mereka ragu, apakah mereka
telah salah memberikan dosis kemoterapi
kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman
Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar
mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek
samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya
tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu
hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan
tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni
sambil tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan
peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian
menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut
banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan
tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami,
tetapi
mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh"
sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan
agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata
membantu penderita kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat
Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan
handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala,
penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos,
ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus
yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil
menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca
Menulis di Jawa Pos" ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar
diluar dugaan. Dalam
sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai
saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini" lanjut Boni yang
beralamatdi Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil
adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter
mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil
menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca
Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien
tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena
hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha
untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo
di Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang,
Malaysia, Patoppoi
mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan
memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet
They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam
buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan
kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan
perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan
putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang
juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No.
5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan
di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk
pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak
Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai
tanaman lainnya
dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung
penyakit yang diderita" kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut,
penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita
dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi
disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan
resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60
Ringgit Malaysia" lanjut Boni. “Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan
obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo
bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran" tambahnya. Sebenarnya
pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu
dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua
pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah
satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien
pertama yang mengidap kanker
rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani
oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani
kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit
rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap
kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi
tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini,
tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien
tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena
menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika
rekan-rekannya mengetahui bahwa dia
memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai
"ter-kun" atau dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara
pengobatan konvensional dan
modern” kata dokter tersebut. Banyak hal menarik
yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien.
Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya
pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker
paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer
Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat
mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi
ketergantungan pada narkoba tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa
menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi,
karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi
berkubang lagi" sambung Boni sambil tertawa. Juga ada pengalaman pasien
yang
meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena
obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi.
Setelah diberi minum sari
keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi
merasa kesakitan. Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang
telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker
payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim,
tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.
Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran ringgit
Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. Bagi
teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel
"Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga social “Cancer
Care Indonesia" beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta, telp :
021-4894745